Ada apa dengan Bumi: Oleh Emi Ratnasari, S.Sos
Ada apa dengan bumi? Pertanyaan sederhana tentang apa yang sebenarnya tengah
terjadi dengan bumi, tempat kita tinggal, tempat kita menghirup udara, tempat kita bekerja, tempat
kita menghabiskan sisa umur kita, tidak bisa kita sebutkan satu persatu semua aktivitas kita di
bumi ini. Perubahan tengah terjadi di bumi ini, dampak revolusi industri, gaya hidup manusia,
maupun alam itu sendiri berperan merubah bumi.
Beberapa tahun terakhir kita merasakan perubahan musim yang tidak biasa, musim yang sulit
diperkirakan, udara semakin panas, atau udara yang mendadak dingin. Pergeseran musim terjadi di
tengah- tengah kita. Sebagai negara agraris Indonesia sangat terpengatuh dengan perubahan iklim
bumi. Petanilah yang merasakan dampak secara langsung karena musim panen dan musim tanam menjadi
sulit diperkirakan. Tanaman yang sedianya siap panen ternyata mengalami gagal panen akibat banjir,
hama yang sekarang lebih sulit dikendalikan, maupun obat pembasmi hama yang seperti tidak mempan
untuk membasminya, bahkan cuaca panas membuat tanaman mati kekeringan.
Begitu pula dengan peternak. Akibat musim kemarau berkepanjangan dan berkurangnya curah hujan,
tumbuhan, rumput yang merupakan makanan ternak alami semakin sulit didapat. Hal ini membuat ternak
menjadi tergantung dengan makanan kimia buatan pabrik. Bila terjadi berkepanjangan tentu membuat
pakan ternak menjadi mahal dan sulit didapat. Makanan pabrik membuat ternak rentan dengan penyakit,
daging yang dihasilkan juga berkurang kualitas dan rasanya.
Laut yang merupakan sumber daya alami juga makin banyak yang tercemar akibat aktivitas manusia
secara berlebihan, ikan mati karena limbah yang dibuang secara sembarangan dilaut. Begitu pula
dengan abrasi yang membuat ikan semakin sulit dicari.
Di kota- kota besar krisis air bersih terjadi selama beberapa waktu terakhir, jumlah penduduk yang
terfokus di kota besar membuat kebutuhan akan air bersih dan rumah layak huni semakin meningkat.
Masalah sampah pun bahkan terjadi di daerah- daerah. Hal ini membuat beban bumi semakin berat.
Ruang publik semakin berkurang, begitu pula dengan ruang terbuka hijau atau hutan kota yang semakin
sedikit jumlahnya, hal ini membuat daerah resapan air juga semakin berkurang, akibatnya semakin
sering terjadi banjir.
Daerah resapan air yang berkurang membuat air bersih juga semakin berkurang. Beberapa kota bahkan
membuat warganya harus menyisihkan anggaran untuk membeli air bersih. Bila hal ini terjadi terus
menerus lama kelamaan akan terjadi krisis air bersih. Beberapa negara telah mengalami krisis air
bersih selama beberapa waktu.
Berkurangnya Hutan Hijau
Aktivitas dan jumlah penduduk telah membuat hutan menjadi berkurang. Hutan yang merupakan paru-
paru bumi pun juga semakin berkurang, dampak dari perubahan fungsi hutan itu sendiri. Akibatnya,
udara menjadi panas dan polusi udara semakin terasa. Udara bersih menjadi sesuatu yang langka bagi
manusia. Beberapa daerah didunia mengalami polusi tinggi, terkategorikan sangat tidak sehat,
membuat sekolah dan kantor dibuat work from home.
Hutan hijau sebagai penyaring udara kotor semakin berkurang akibat aktivitas manusia. Pergeseran
fungsi hutan juga menjadi pemicu berkurangnya hutan hijau didunia, Pertambahan jumlah penduduk
mendesak manusia menrubah fungsi hutan menjadi pemukiman. Illegal logging terjadi di mana- mana,
mengakibatkan daerah resapan air berkurang, mengakibatkan longsor dan banjir dimana- mana.
Indonesia sendiri, negara dengan salah satu hutan hijau terbesar didunia juga tidak luput dari alih
fungsi hutan, yang sejatinya untuk menjaga keseimbangan ekosistem berubah menjadi perkebunan,
bahkan menjadi industri. Hal ini tentu membuat daerah resapan air menjadi berkurang dan
mengakibatkan bencana.
Perubahan iklim
Perubahan iklim berdampak pada bumi secara signifikan, dan merupakan isu internasional selama
beberapa waktu, dan memunculkan berbagai dampak negative, termasuk bencana lebih ekstrem dan lebih
sering, gangguan ekosistem, ancaman kesehatan, krisis air bersih, krisis pangan, serta kerugian
ekonomi akibat gagal panen.
Bencana alam yang lebih sering terjadi merupakan dampak perubahan iklim, dan terasa sangat
ekstrem.Kekeringan terasa lebih parah dari tahun ketahun. Bukan hanya itu, beberapa hari terakhir
gelombang panas juga terjadi sampai dinegara kita. Dampak perubahan iklim juga mengakibatkan
gangguan ekosistem seperti punahnya spesies yang tidak dapat beradaptasi, rusaknya terumbu karang
sebagai habitat ikan dan spesies laut,
migrasi burung yang berubah yang bisa mengakibatkan perubahan rantai makanan dan keseimbangan
ekosistem.
Apakah manusia terkena dampak perubahan iklim? Sangat berdampak, karena perubahan iklim akan
mengganggu aktivitas dan kegiatan ekonomi manusia. Dampak tersebut bisa dalam bentuk gangguan
kesehatan akibat penyebaran penyakit. Manusia menjadi lebih rentan terhadap masalah kesehatan
seperti cuaca ekstrem, gangguan mental akibat masalah tempat tinggal, berbagai bencana alam, dan
masalah lingkungan.
Masalah ekonomi pun turut terdampak perubahan iklim. Cuaca yang sulit diprediksi dan ekstrem, musim
kering berkepanjangan, curah hujan tinggi membuat petani gagal panen, hal ini membuat ketersediaan
pangan menjadi berkurang. Bila terjadi berkepanjangan akan membuat kerugian ekonomi dan
mengakibatkan ketimpangan sosial, jurang pemisah antara masyarakat miskin, menengah dan tinggi
semakin nyata dan menimbulkan masalah sosial baru. Upaya apa yang bisa kita lakukan untuk
menghadapi perubahan iklim?
Mitigasi dan Adaptasi
Dampak perubahan iklim telah kita rasakan dalam beberapa tahun terakhir, dan dampaknya berimbas
diberbagai sektor kehidupan. Bertahan sampai kapan bumi dengan segala masalah didalamnya? Apakah
kita akan diam saja ataukah kita harus bergerak agar kerusakan bumi tidak semakin parah? Sebagai
mahluk hidup yang paling cerdas dan paling berperan dalam aktivitas dibumi penting bagi kita untuk
melakukan upaya mitigasi, adaptasi untuk menghadapi perubahan iklim dan agar bumi tidak semakin
rusak.
Beberapa kali kita dengar, pembicaraan mengenai masalah perubahan iklim mejadi topik utama, atau
disinggung dalam forum internasional. Perubahan iklim yang membuat dampak hampir di semua sektor
kehidupan membuat pemerintah berbagai negara mencari upaya untuk mengatasinya. Masalah krisis air,
krisis pangan, krisis tempat tinggal berdampak terhadap sektor ekonomi dan sosial harus segara
diatasi, agar bumi tetap nyaman sebagai tempat kita tinggal.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan mitigasi. Mitigasi adalah tindakan mengurangi resiko
atau dampak negatif suatu peristiwa maupun bencana alam. Perubahan iklim dapat saling berkaitan dan
dapat memperburuk keadaan. Negara- negara dunia
ketiga seperti Indonesia lebih rentan dengan perubahan iklim karena juga harus mengatasi masalah
kemiskinan, pengangguran, kesenjangan pendapatan dan masalah sosial lainnya.
Perkembangan teknologi dan pengaruh media sosial bisa dimanfaatkan untuk upaya mitigasi maupun
adaptasi. Semakin banyak masyarakat yang sadar akan pentingnya merawat bumi. Hal sederhana
dilakukan dari lingkungan sekitar tempat tinggal kita. Banyak terdapat di media sosial masyarakat
membagikan cara dan upaya bagaimana ketahanan pangan dimulai dari rumah. Gaya hidup sehat bebas
pupuk kimia, memilah sampah dan menghasilkan uang dari sampah baik sampah rumah tangga, sampah
organik maupun sampah non organik.
Generasi muda banyak yang peduli akan pentingnya menjaga bumi dengan cara mereka, ada yang dengan
kesadaran membersihkan sampah sungai. Anak muda lain membagikan cara memanfaatkan sampah kertas
untuk proses recyle menjadi barang yang lebih berguna.
Kesadaran akan pentingnya menjaga bumi juga merubah industri dengan beralih memproduksi barang yang
sifatnya ramah lingkungan, memproduksi kendaraan dengan bahan bakar terbarukan atau kendaraan
listrik maupun hybrid yang bertujuan mengurangi penggunaan bahan bakar fosil. Selain itu, upaya
adaptasi juga gencar dilakukan diberbagai instansi pemerintah maupun swasta agar masyarakat semakin
sadar untuk menjaga dan merawat lingkungan agar bumi bisa menjadi warisan bagi generasi mendatang.
Begitu pun dengan Instansi Kementerian Agama juga berupaya melakukan tindakan penyelamatan bumi
dengan menggencarkan dan menggalakkan gagasan ekoteologi dimana nilai- nilai keagamaan
diintegrasikan dengan pelestarian lingkungan. Salah satu upaya nyata adalah dengan program menanam
pohon bagi PPPK baru dilingkungan Kementerian Agama, serta touring ekoteologi yang baru saja
dilakukan Kementerian Agama Kabupaten Boyolali beberapa waktu yang lalu.
Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Tips Mudah Membuat Modul Ajar dengan Bantuan AI
Di era digital seperti sekarang, guru tidak harus bekerja sendirian saat menyusun bahan ajar. Kecerdasan buatan (AI) hadir sebagai solusi cerdas yang bisa membantu guru membuat modul aj
Ketika Alam Bicara: Tafsir Spiritual atas Bencana dan Kehidupan
Ketika Alam Bicara: Tafsir Spiritual atas Bencana dan Kehidupan Pendahuluan Di tengah meningkatnya intensitas bencana alam seperti banjir, gempa bumi, kebakaran hutan, dan longsor, ma
